Pages

Assassin's Creed: Revelation's

Rabu, 22 Februari 2012 0 komentar

Assassins Creed : Revelations adalah sekuel terakhir dari trilogi Assassins Creed 2 setelah Assassins Creed: Brotherhood yang memuat kisah terakhir dari Ezio sebagai Assassins termasuk kisah terakhir dari Altair. Yang akan dirilis pada bulan November 2011. Titel ini akan dirilis untuk PC, XBOX360, & PS3. Khusus untuk PC akan dirilis bersamaan dengan platform lainnya setelah dirilis secara terpisah seperti sekuel terdahulu. 

Press Release dari Ubisoft setelah diterjemahin:

Ubisoft mengumumkan pengembangan Assassin's Creed: Revelations, sebuah sekuel keempat dalam franchise video game yang telah diakui dan sangat laris. Dikembangkan dan dikomando oleh Ubisoft Montreal dengan dukungan dan keahlian dari studio Ubisoft Annecy, Massive Entertainment, Quebec, Singapura dan Bucharest, Assassin's Creed: Revelations menyajikan pengalaman yang paling mendalam siap tersedia dalam seri ini dan puncak dari petualangan Ezio. Titel ini ditetapkan untuk rilis untuk platform Xbox 360, Playstation 3 dan Windows PC pada bulan November ini.

Awalnya diluncurkan pada tahun 2007, ketiga Assassin's Creed yang pertama telah terjual lebih dari 28 juta copy di seluruh dunia (belum termasuk hitungan versi bajakan), dan franchise kini ditetapkan sebagai salah satu seri terbaik yang telah terjual pada konsol next-gen. Telah diakui yang memiliki beberapa kekayaan dalam game tersebut seperti alur cerita paling mengasyikkan di industrinya, Assassin's Creed bukan saja dikemas dalam bentuk video game, tetapi merambah ke industri lainnya seperti buku komik, Facebook, novel, film serial dan banyak lagi.

Dalam Assassin's Creed: Revelation, master assassins Ezio Auditore bertualang dalam lrangka mencari jejak mentor legendarisnya, Altair, pada suatu perjalanan penemuan dan pengungkapan. Ini adalah jalur berbahaya - yang akan mengambil Ezio ke Constantinopel, jantung Kekaisaran Ottoman, di mana Pasukan Templar yang sedang berkembang mengancam untuk mengguncang wilayah tersebut.

Selain cerita tentang Ezio yang telah memenangkan beberapa penghargaan, mode multiplayer online dihadirkan kembali yang telah diperbaharui dan diperluas, dengan mode lebih, peta lebih banyak dan lebih banyak karakter yang memungkinkan pemain untuk menguji keterampilan pembunuh terhadap orang lain dari seluruh dunia. Sekuel terakhir dalam Storyline Assassin's Creed juga termasuk gameplay revolusioner, memungkinkan pemain untuk memanipulasi membangun memori Desmond dan Animus untuk memecahkan misteri masa lalunya dan mendapatkan wawasan ke masa depan.

"Menyampaikan sekuel terakhir dari trilogi Ezio merupakan tonggak penting dalam franchise Assassin's Creed bagi kita dan bagi fans kami," kata Alexandre Amancio, Creative Director di Ubisoft Montreal. "Assassin's Creed: Revelation mencakup banyak fitur baru dan beberapa kejutan yang signifikan. Kami tidak sabar menunggu untuk menunjukkan fans kami apa yang kita miliki di toko pada E3 tahun ini."

Trailernya:    






































Gameplaynya:



Sejarah Assassin's V2 Chap 2

0 komentar

Taktik: pembunuhan, intimidasi dan intrik

Karena tidak mampu membentuk satuan tentara konvensional, kaum Nizariyya membentuk peperangan asimetris yang mengubah tindakan pembunuhan politis menjadi suatu sistem untuk bertahan hidup dan pertahanan terhadap musuh-musuhnya. Mereka melatih pasukan komando tersamar yang sangat terlatih (ahli dalam bahasa, ilmu pengetahuan, perdagangan dan lain-lain, yang dikenal sebagai Fedayeen, yang secara diam-diam akan menginfiltrasi posisi musuh dan selalu menyamar. Jika warga Nizari menghadapi ancaman pembunuhan atau benteng mereka akan diserang, Fedayeen diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut.

Fedayeen menggunakan ketrampilan mereka yang termasyhur untuk tujuan-tujuan politik tanpa harus membunuh; misalnya seorang korban, biasanya berpangkat tinggi, di suatu pagi akan mendapati belati Fedayeen di atas bantalnya di saat bangun pagi. Ini petunjuk yang jelas bagi orang tersebut bahwa dia tidak lagi aman dimanapun, bahwa lingkaran dalam para pelayannya telah diinfiltrasi oleh kelompok pembunuh tersebut, dan bahwa tindakan apapun yang menyebabkannya berkonflik dengan kaum Hashshashin harus dihentikan, jika ia ingin hidup.

Di Persia mereka menggunakan taktiknya secara langsung terhadap kaum Turki seljuk yang membunuhi kaum Nizari. Saat membunuh tokoh tertentu, mereka sangat hati-hati, melakukannya tanpa jatuhnya korban yang tidak perlu dan hilangnya nyawa orang yang tak bersalah, meski mereka juga sengaja membentuk reputasinya yang mengerikan dengan membantai korbannya di depan umum. Umumnya, mereka mendekati dengan memakai samaran, atau telah menjadi agen tersamar di suatu kelompok. Mereka lebih menyukai belati atau pisau kecil yang tersembunyi, mereka menolak menggunakan racun, panah atau alat lain yang bisa memungkinkan penyerangnya lolos dan hidup.

Di Levant diyakini bahwa Saladdin, yang kesal akibat beberapa serangan hashshashin yang hampir berhasil atas dirinya, mengepung basis mereka di Syria, Masyaf, saat pengambilalihan kembali Outremer di tahun 1176. Lalu ia mengakhiri pengepungan tersebut setelah perjanjian, dan setelahnya berusaha menjaga hubungan baik dengan sekte tersebut. Dari sekte itu sendiri tersiar kabar bahwa assassin Rashid-ad Dinan menyelinap ke dalam tenda Saladdin, di tengah-tengah kampnya, meninggalkan sepotong kue yang telah diberi racun dan selembar surat bertuliskan "anda berada dalam genggaman kami" yang ditaruh di perut Saladdin saat dia tidur, dan kemudian menyelinap keluar lagi tanpa suatu halangan. Kisah lainnya menceritakan tentang surat yang dikirim kepada paman Saladdin yang penyayang berisi ancaman mati bagi seluruh garis keturunan kerajaan, mungkin bukan sekedar ancaman kosong. Apapun kebenarannya, paman Saladdin jelas-jelas mematuhi ancaman tersebut dan mengurungkan niatnya.

Kaum Hashshashin juga termasuk kelompok pertama yang menggunakan sinyal pantulan cermin di siang hari untuk berkomunikasi dengan basis terdekat, khususnya sekitar alamut. Di malam hari mereka menggunakan sinyal api.

Kaum Hasshashin seringkali menerima kontrak dari pihak luar. Richard the Lionheart adalah salah satunya yang dicurigai membayar mereka untuk membunuh Conrad de Montferrat. Dalam banyak kasus, kaum Hashshashin digunakan untuk mempertahankan keseimbangan musuh mereka. Korban-korban yang terkenal diantaranya Wazir Abbasiyah yang terkenal Nizam al-Mulk (1092), Wazir Fatimiah al-Afdal Shahanshah (1122)(bertanggung jawab memenjarakan kaum Nizari), Ibn al-Khashshab dari Aleppo (1125), al-Bursuqi dari Mosul (1126), Raymond II dari Tripoli (1152), Conrad de Montferrat (1192), dan pangeran Edward (kemudian menjadi Edward I dari Inggris) terluka oleh pisau beracun Hashshashin di tahun 1271.

Mitos dan Legenda


Perpustakaan Alamut telah dihancurkan, bersama dengan basis kekuatan Persia mereka, mengakibatkan hilangnya sebagian besar catatan mereka. Kebanyakan kisah mereka berasal dari cerita orang arab dan cerita dari Marco Polo. Mayoritas muslim sekarang memusuhi kaum Nizari, mereka disebut dengan istilah Batini. Istilah ini biasa digunakan untuk ejekan bagi mereka, khusunya kaum Ismailiyah, yang memahami makna tingkat esoterik dalam al-Qur'an. Pengucilan keagaman yang terus menerus ini yang akhirnya membuat mereka sampai membuat bersekutu dengan orang-orang kristen melawan kaum muslim di sejumlah kejadian bila itu sesuai dengan kepentingan mereka.

Kebanyakan kisah saat ini mengenai Assassin berasal dari Marco Polo, yang menyatakan telah mengunjungi Alamut di tahun 1273 dalam pengembaraannya ke timur (kunjungan yang secara luas dianggap fiktif karena basis pertahanan tersebut telah dihancurkan oleh tentara Mongol di tahun 1256). Polo menulis bahwa calon assassin diharuskan mengikuti ritual dimana mereka diberi narkotika untuk merasakan 'sekarat', dan kemudian dibangunkan di dalam taman penuh dengan anggur dan makanan mewah yang disajikan para gadis yang jelita. Si calon kemudian diyakinkan bahwa ia berada di surga dan sang pemimpin, Hassan-i Sabbah merupakan perwujudan dari keillahian dan bahwa seluruh perintahnya harus diikuti, bahkan sampai mati. Kisah-kisah lainnya tentang Hashshashin berasal dari pejuang perang salib yang kembali dari Levant yang bercerita mereka telah berjumpa dengan pemimpin Nizari Syria Rashid ad-Dinan Sinan (Si orang tua dari gunung)di benteng Masyaf.

Penggunaan bahan beracun tidak ada disebut di dalam sumber-sumber Ismailiyah, tidak juga di musuh-musuh mereka, Sunni dan Syiah, meski keduanya menderita akibat pembunuhan-pembunuhan oleh kaum Hashshashin. Misalnya Farhad Daftary dalam The Assassins Legends: Miths of the Isma'ili mengatakan: "di saat yang sama, di dalam budaya perang salib dari masa sebelum dan awal eropa modern, kaum Nizari di Persia dan Syria digambarkan sebagai tentara muslim bayaran yang membunuh korbannya selagi 'melayang' karena opium atau Hashish. Jika perancangan propaganda tentang pembunuh yang 'teler' ini tidak sesuai dengan realitas kompleks tentang disiplin dan pelatihan yang dibutuhkan untuk malukan tindakan jelas yang selalu bersifat politis, maka angapan umum tentang kaum Nizari sebagai komunitas pembunuh juga menafikan budaya mereka yang kaya dan beragam".

Edward Burman, dalam The Assassins - Holy Killers of Islam, mengatakan: "tidak disebutkan adanya narkotik tersebut (Hashish) terkait dengan para pembunuh Persia - khususnya di perpustakaan Alamut ('the secret archives')". Sebagai tambahan, the Encyclopedia of the Orient menolak tuduhan ini. Memang Hassan-i Sabbah tercatat keras khusus terhadap pengguna narkoika. Ia merasa narkotika melemahkan disiplin keras yang dibutuhkan para Nizari untuk bertahan hidup. Ia membuat contoh dengan menghukum anaknya di muka umum karena minum alkohol, yang dia yakini memberi contoh buruk bagi masyarakat yang sedang menghadapi cobaan berat tersebut. Benyamin of Tudela yang berkelana seratus tahun sebelum Marco Polo menyebutkan tentang Al-Hashshashin dan pemimpin mereka di tanah bulan sabit yang subur Al-Sinan yang oleh para pejuang perang salib dijuluki "Orang tua dari gunung". Dia mencatat kota utamanya adalah Qadmous.

Para cendekiawan modern yang diawali peneliti dari Soviet, untuk memahami lebih jauh komunitas-komunitas yang berada dalam wilayah mereka yang luas, melakukan survey dan menemukan komunitas-komunitas kecil Ismaili terisolasi di dataran-dataran yang berbahaya di dalam wilayah Asia tengah. Profesor Vladimir A. Ivanov, seorang orientalis Rusia, mengumpulkan dan menerbitkan salinan dari dokumen-dokumen yang berasal dari Alamut ini, yang mencakup catatan-catatan dari tangan pertama, diikuti oleh komentar mengenai kaum Hashshashin dari sumber aslinya. Kaum Nizari melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh orang-orang soviet, kemudian cendekiawan barat, untuk mengumpulkan, melestarikan dan mencetak karya-karya tertulis dari komunitas-komunitas Isma'ili Nizari. Di tahun 1997, Institut of Ismaili Studies didirikan untuk menyebarkan karya ilmiah dari para akademisi ternama mengenai kaum Nizari. Banyak dari karya ini yang membahas periode Hashshashin, termasuk sejarah, ilmu pengetahuan dan filosofi mereka.

Sejarah Assassin's V2 Chap 1

0 komentar


Sejarah Assassins

Hassasin (juga disebut Hashishin, Hashashiyyin, Hashshashin atau Assassin) adalah cabang dari Islam Syi'ah Ismā'īlī. Mereka mendirikan beberapa pemukiman di Iran, Irak, Suriah dan Lebanon di bawah pemimpin karismatik Hasan-i Sabbah. Mereka mengirim orang yang berdedikasi untuk membunuh pemimpin penting Sunni, yang dianggap mereka sebagai "perebut takhta tak beriman." Sekte ini dihancurkan oleh bangsa Mongol. Benteng terakhir mereka dihancurkan oleh Hülegü Khan tahun 1272.

ETIMOLOGI

Sekte ini menyebut dirinya al-Da'wa al-Jadīda, dari bahasa Arab yang artinya panggilan baru, kebalikan dari slogan kelompok fatimid panggilan lama. Nama Hasyasyin oleh beberapa orang diartikan sebagai pengikut Hassan (pemimpin kelompok persia ini yang bernama Hassan-i Sabah). Istilah Hasysyin secara luas juga dianggap berasal dari kata bahasa arab Hashshash yang artinya pemakai hashish (narkotik), meskipun ini masih diperdebatkan. Variasi terkini tentang teori ini, dijelaskan oleh Edward Burman, bahwa julukan tersebut diberikan oleh para pengkritik kelompok Nizari yang mencurigai kelompok rahasia ini, serta pelaksanaan konsep filosofi dan teologi mereka yang heterodox.

Penggunaan zat-zat psikoaktif (terutama Cannabis) oleh para cendekiawan saat ini dianggap sebagai mitos, tetapi harus diingat bahwa mitos tersebut sangat populer pada zaman itu. Julukan itu bisa juga berasal dari kata "mereka yang menghasilkan hashish", meski etimologi ini juga diperdebatkan. Kata hashish (kemungkinan berasal dari bahasa Persia) merujuk pada getah yang berasal dari bunga kanabis. Panadangan umum ini bisa jadi memengaruhi pendapat para pelaku perang salib, dan tentunya juga kisah perjalanan Marco Polo ke benteng Alamut di tahun 1273 juga menyebutkan tentang hal ini. Karena salah satu atau kedua sumbar inilah kata 'assasin' yang telah artinya telah terdistorsi masuk ke dalam kosakata bahasa Barat.

Meskipun demikian, etimologi yang paling diterima mengenai kata assasin adalah dari kata Hassan (Hassan-i Sabbah) dan pengikutnya, dan begitu adanya selama berabad-abad. Keriuhan di sekitar versi Hasish dimulai oleh seorang orientalis bangsa Perancis, Silvestre De Sacy, yang pada tanggal 7 juli 1809 mengadakan kuliah di Institute of France, dia mengutip kembali kisah Marco Polo tentang narkotika and sekte ini, dan menghubungkannya dengan kata ini. Herannya teori ini mendapatkan kesuksean yang sangat besar, dan masih digunakan hingga saat ini.

Banyak cendekiawan berargumen, dan dengan sangat meyakinkan, bahwa julukan 'pemakan hashish' atau 'pengambil hashish' diberikan oleh lawan dari kelompok Ismaili dan tidak pernah digunakan dalam kisah-kisah atau sumber-sumber muslim. Karenanya istilah ini diartikan secara negatif sebagai 'musuh' atau 'orang-orang yang tidak terhormat'. Pengertian istilah ini berlaku hingga zaman modern sebagaimana kata Hasyashin di Mesir pada tahun 1930-an yang berarti 'berisik atau rusuh'. Sangatlah tak mungkin Hassan-i Sabbah yang taat terlibat dalam pengambilan narkotik, tidak disebutkan adanya narkotik hashish terkait para pembunuh Persia ini, khususnya di perpustakaan Alamut (the secret archives), dan menyebut mereka hash-ishiyun, "penyedot hashish". Beberapa orientalis mengira ini adalah asal dari kata assassin, yang dalam banyak bahasa Eropa artinya lebih mengerikan, tetapi kenyataannya berbeda. Menurut teks yang kami dapat dari Alamut, Hassan-i Sabbah biasa menyebut pengikutnya Asasiyun, yang berarti orang-orang yang taat pada asas, artinya 'dasar' dari keyakinan. Inilah kata, yang disalah artikan oleh para pengelana asing, yang kelihatannya mirip dengan kata "Hashish".

SEJARAH

Meskipun menjadi minoritas di dalam minoritas, sekte Ismailiyah, di bawah pimpinan para imamnya, telah berhasil membangun gerakan rahasia bawah tanah yang berkelanjutan terhadap kekhalifahan Abbasiyah. Mereka bermaksud merealisasikan gagasan-gagasan revolusioner mereka dengan cara membangun negara Shiah pertama, kerajaan Fatimiah, di sepanjang Mediterania dan Levant, dengan ibukotanya Kairo. Kerajaan ini bertujuan untuk melakukan terobosan ilmiah dan sosial terhadap masyarakatnya, termasuk kebebasan beragama, dan memang, kelompok Fatimiah berjasa dalam beberapa kemajuan besar pada masa kejayaan Islam.

Pada tahun 1904, ketika Khalifah Fatimiah VIII dan imam kelompok Ismailiyah Maad al-Mustansir Billah sakit di Kairo, Wazirnya yang berpengaruh, Al-Afdal, mengambil alih kekuasaan negara dan menunjuk anak bungsu khalifah, Al- Musta'i (ipar sang wazir) sebagai khalifah, dalam sebuah kudeta di istana. Nizar, sang pewaris kekuasaan yang sebenarnya, pergi ke Alexandria, di saat dia mendapat dukungan kuat dan lalu memimpin perlawanan,tetapi kemudian dikalahkan dan dibunuh atas perintah saudaranya. Hal ini menyebabkan perpecahan di kalangan Ismailiyah, dan para pendukung Nizar, yang dijuluki kaum Nizaris, pindah ke timur dan melanjutkan perjuangan mereka di bawah pimpinan mereka si penyeru dari Persia yang kharismatik, Hassan-i Sabbah.

Hassan-i Sabbah sebelumnya dikenal sebagai sebagai penyeru utama, Da'i, di mesin propanganda rahasia kalangan Fatimiah di dalam kekhalihafan Abbasiyah. Dia lalu memimpin kelompok perlawanan Nizari, dan berhasil mendapatkan dukungan dari mayoritas shiah Fatimiah di Levant, Persia, Iraq, sekelompok pengikut bawah tanah di jantung kekhalifahan Fatimiah, di Mesir, dan di Afrika Utara lainnya. Meski demikian, dengan memisahkan diri dari kekhalifakan Fatimiah, para pengikut Hassan-i Sabbah menjadi terkucil dan kalah kekuatan di wilayah musuh.

Tidak puas hanya bertahan, sebaliknya teguh untuk membangun suatu negara impian yang baru, Kaum Nizariyya merancang suatu strategi untuk mengendalikan benteng-benteng yang secara strategis penting dengan diam-diam mengislamkan para penduduk di dalam wilayah dan di sekitar benteng-benteng strategis Ismailiyah. Mereka membangun suatu bentuk baru 'negara di dalam negara' yang mencakup beberapa 'pulau' pemukiman yang dikelilingi tembok di wilayah, sekarang ini, Iran, Irak, Syria dan Libanon. Awal yang resmi dari Federation of the Assasins adalah tahun 1090 ketika Hassan-i Sabbah mendirikan basis pertamanya di Daylam, di dalam benteng Alamut (sangkar elang dalam bahasa Persia) di selatan laut Kaspia. Alamut tetap menjadi ibukota dari 'Federasi kaum Assassin', dan tempat bermukim para pemimpinnya, disebut penguasa Alamut, hingga keruntuhannya.

Sejarah Assassin's V1

0 komentar

Assassin, sebuah kata yang mungkin tak asing lagi bagi kita. Para gamer tentunya tahu akan karakter dan kisahnya. Selain itu, kata-kata assassin sudah sering terdengar di media internet, televisi, ataupun majalah. Assassin adalah salah satu legenda yang kurang tercium masyarakat dunia di tengah berkecamuknya Perang Salib.
Saya menemukan beberapa literatur tentang ‘ninja’ timur tengah ini dari buku yang membahas Perang Salib, beberapa webpage, dan juga gameAssassin’s Creed. Dari buku dan internet tentunya saya dapatkan informasi mengenai fakta dan berbagai asumsi tentang Assassin. Sedangkan dari game, saya mendapatkan literatur imajinasi visual yang kurang lebih dapat dipercaya, karena game ini didesain dan dikembangkan oleh tim multikultural dan agama. Ada beberapa benang merah antara literatur yang saya temukan dan alur dalam game ini.
Assassin sebenarnya adalah lafaz dan istilah dari barat yang bersumber dari kataHasyasyin. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Sebelum terjadinya Perang Salib, Hasyasyin dibentuk olehHassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam suksesi di Mesir pada tahun 1090. Kemudian ia menggalang kekuatan Syi’ah di Syiria untuk membunuh para tokoh dan pimpinanMuslim Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah). Syi’ah sendiri adalah paham yang telah melenceng dari ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Hassan juga membuat benteng Masyaf yang kuat di Alamut, sebelah selatan laut Kaspia dan utara Iran. Posisi benteng yang strategis ini mempermudah para hasyasyin melakukan penyusupan dan aksi pembunuhan mereka.
Ketika kita memainkan peran sebagai seorang Assassin di game Assassin’s Creed, kita akan benar-benar mendapatkan pengalaman visual tentang latar waktu itu. Game itu berlatar tahun 1191 dengan seting berkutat di benteng Masyaf, dan tiga kota pada masa itu, yaitu Damascus, Jerussalem, dan Acre. Latarnya waktunya adalah ketikaPasukan Salib III pimpinan Richard The Lion Heart mengarah ke Jaffa, untuk selanjutnya bermaksud merebut Jerussalem dari kekuasaan Muslim.
Yang menarik adalah tentang latar tiga kota sekaligus benteng yang divisualisasikan dalam game ini, yaitu Damascus, Jerussalem, dan Acre.
Damascus adalah sebuah kota yang dibebaskan pasukan Muslim pimpinan Khalid ibn Walid dari kekaisaran Romawi Timur, Byzantium. Kota ini digambarkan sebagai kota yang indah, dan merupakan pusat kekuatan Muslim.
Jerussalem adalah kota suci yang menjadi sengketa dari dulu sampai sekarang. Di tanah ini terdapat Solomon’s temple, the Dome of the Rock, the al-Aqsa Mosque, and the Church of the Holy Sepulchre. Awalnya kota ini diserahkan secara damai kepada Khalifah Umar ibn Khaththab pada tahun 637 M atau 16 H. Selama 8 abad, Muslim, Nasrani, dan Yahudi hidup dengan damai berdampingan di bawah kekhalifahan. Sampai akhirnya, Jerussalem dapat ditaklukkan oleh gelombang Pasukan Salib (Crusaders). Para prajurit haus darah ini membantai 70.000 Muslim di yang berlindung Masjidil Aqsha. Bahkan para semua Yahudi dan Nasrani yang membantu mempertahankan kota juga menjadi korban pembantaian. Sampai-sampai seorang sejarawan barat mengungkapkan, “…pembantaian terbesar yang membuat kami melewati genangan darah hingga mata kaki…”. Kurang dari satu abad kemudian, Jerussalem kembali ke pangkuan pasukan muslim setelah kemenangan gilang gemilang 12.000 tentara Allah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi menghempaskan 50.000 Pasukan Salib di lembah Hittin.  Richard The Lion Heart, pada tahun 1191 tersebut  bermaksud merebut kembali Jerussalem dari kaum Muslimin. Kembali ke latar Assassin’s Creed, kota Jerussalem yang pada tahun itu telah ada di bawah pemerintahan Muslim itu, divisualisasikan sebagai kota di mana Muslim, Nasrani, dan Yahudi dapat hidup berdampingan. Di sana berdiri kokoh masjid-masjid, gereja-gereja, dan kuil-kuil Yahudi.
Dan Acre, sebuah kota yang digambarkan cukup suram. Hal ini mungkin dikarenakan tragedi Acre pada Juli 1191 yang berhasil ditaklukkan oleh tentara Salib. Hanya karena keterlambatan pembayaran uang tebusan sebesar 200.000 keping emas oleh Shalahuddin, Richard membantai 3.000 muslimin Acre yang kebanyakan wanita dan anak-anak.
Secara garis besar saya terkesan pada visualisasi yang mendekati real oleh para desainer game ini. Hanya saja, saya tidak sepakat  pemandangan akan pengememis dan orang gila yang ada di berbagai sudut kota, serta beberapa tentara yang mengganggu warga sipil. Terkesan memaksakan dengan men-genaralisasi-kan keadaan yang ada pada setiap kota. Maklum, ketika kota-kota dalam game itu dibuat sebagai kota yang aman tentram, tentunya akan sedikit sekali aksi pertarungan yang membuat game ini akan terasa menjenuhkan.
Hasyasyin juga turut memainkan perannya di sini. Dalam memainkan peran sebagai Assassin, kita akan berkeliling menjelahi ketiga kota tersebut, mencari informasi tentang keadaan pasukan Shalahuddin dan Richard. Tentu, hasyasyin memainkan perannya sebagai pembunuh rahasia, melenyapkan tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh dan mengganggu pada masa itu.
Dalam sejarah, dua pasukan besar itu bertemu dan berperang di Arsuf pada September 1191. Dan akhirnya, pada Sepetember 1192 tercapai kesepakatan damai antara Shalahuddin dan Richard, yaitu Jerussalem tetap dipegang umat Islam, dan umat Kristen diperbolehkan berziarah dengan damai.
Korban-korban yang berjatuhan akibat aksi pembunuhan rahasia Hasyasyin yaitu Nizamul Mulk (1092), Wazir al-Afdal (1122), Ibnu Kashab (1124), al-Bursuqi (1126), Raymond II of Tripoli (1152). Pada 1191, tokoh-tokoh nyata perang Salib yang dibunuh dalam Assassin’s Creed  adalah Garnier de Naplouse (hospitaller), William de Montferrat, Sibrand (pimpinan ksatria Teuton), dan Robert de Sable (pemimpin ksatria Templar). Tak berhenti sampai di situ, Conrad de Montferrat pada 1192 terbunuh di tangan Hasyasyin. Kuat dugaan bahwa Richard ada di balik pembunuhan itu. Shalahuddin al-Ayyubi juga menjadi target, dan beberapa kali hampir terbunuh. Terakhir, pangeran Edward dan Raja Edward dari Inggris yang menjadi korban dengan racun pada 1271.
Kelompok pembunuh rahasia ini pun melemah setelah bentengnya di Alamut dihancurkan kekaisaran Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada15 Desember 1256. Rekaman sejarah hasyasyin juga lenyap karena bangsa mongol yang tidak berminat pada ilmu pengetahuan tersebut menghancurkan perpustakaan hasyasyin. Pada 1273, cabang-cabang Hasyasyin di Syiria diberangus oleh Sultan Mamluk Baibar. Legenda Hasyasyin pun runtuh dengan sedikit sekali menyisakan serpihan sejarah.

Templar musuh dari semua Assassin's

0 komentar

Templar didirikan oleh Hugh de Payens, seorang ksatria Perang Salib Pertama, bersama dengan 9 orang ksatria lainnya, pada sekitar tahun 1119. Mereka tetap tinggal di Tanah Suci seusai perang untuk mengawal para peziarah yang datang dari Jaffa ke Yerusalem.

Nama mereka merujuk kepada markas besar mereka yang historis, yaitu Bait Suci Yerusalem di Gunung Bait Suci. Apa yang dikira kaum Templar sebagai Bait Suci Yahudi di Yerusalem sesungguhnya adalah Masjid al-Aqsa, sebuah tempat suci Islam di puncak Bukit Moria, yang mereka ganti namanya menjadi Templum Domini (Bait Suci Tuhan). Puncak ini suci bagi orang Yahudi dan Kristen dan dikenal sebagai Gunung Bait Suci, namun bagi orang Muslim dikenal sebagai Al-Haram ash-Sharif (tempat perlindungan kudus). Templum Domini menjadi model bagi gereja-gereja Templar di kemudian hari di Eropa, seperti misalnya Gereja Temple di London, dan ditampilkan pada beberapa Segel Templar.

Selain di Palestina, ordo ini berperang di Reconquista Spanyol dan Portugal, yaitu perebutan kembali Spanyol dan Portugal dari tangan kekuasaan Islam. Markas besar kaum Templar di Tomar, Portugal adalah Convento de Cristo. Mereka diberikan tanah yang luas dan kastil di daerah yang masih kosong. Pada suatu saat, mereka mewarisi kerajaan Aragon, bersama-sama dengan ordo-ordo militer lainnya. Para Ksatria Templar dapat dikenali melalui mantel luar putih mereka, dengan salib merah yang menonjol yang ditempatkan di atas jantung atau di dada, seperti yang dapat dilihat dalam banyak gambar tentang para perwira Salib.
 

Apa itu Assassin's Creed

0 komentar

Pendahuluan
Game action yang mengisahkan seorang pembunuh dalam mencari target utama lalu membunuhnya dengan berbagai cara, adalah suatu keasyikan tersendiri, apalagi jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Assasin Creed juga bertema seperti itu, keunikannya daripada game action stealth lainnya ialah, settingnya di jaman Crusade War. Tepatnya di sekitar kota Jerusalem pada abad ke-12 masehi. Mode gameplaynya semi open ended dan alur cerita yang semi non linear. Dipadu dengan mode 3rd ps view serta dibumbui dengan banyaknya unsur-unsur teori konspirasi di masa depan, yakni tahun 2012 masehi, membuat game ini terasa campur aduk. Apa kaitannya antara masa depan dengan masa lalu???

Ceritanya
Alkisah, Desmond, seorang bartender biasa di tahun 2012, tiba-tiba diculik oleh sekelompok orang dari perkumpulan Abstergo. Desmond dibawa ke sebuah gedung rahasia, dimana ia bertemu dengan seorang profesor dan asistennya yang menginginkan membuka memorinya demi sebuah misi untuk mencari benda-benda keramat yang tersebar di dunia ini. Kedua orang tersebut percaya bahwa kunci dari pencarian itu berada di dalam otak si Desmond, oleh sebab itu mereka berdua membaringkan Desmond ke sebuah mesin khusus, bernama Animus.

Mesin ini berfungsi mengambil DNA memori si Desmond yang berisi tentang masa lampau dari kakek moyangnya. Leluhurnya itu bernama Altair, seorang anggota dari sebuah organisasi pembunuh bayaran ternama, Hashishin. Ia hidup di abad ke-12 di sekitar kota Jerusalem, pada era Perang Salib. Sehingga Desmond bisa berkelana ke masa lalu, dengan memerankan sang pembunuh bayaran, kakeknya sendiri. Semuanya dilakukan demi menyelidiki apa sesungguhnya benda keramat yang dicari-cari itu. Mengapa disebut benda keramat????

Gameplay-nya
Awal mula bermain, gamer masih berperan sebagai Desmond di masa depan, ia lalu berbaring diatas mesin ANimus, lalu dalam sekian menit gamer akan kembali ke jaman Perang Salib di abad ke-12. Desmond kini berperan sebagai Altair, kakek moyangnya, bekerja sebagai agen pembunuh pada sebuah organisasi tak misterius dan ternama. Altair, digambarkan sebagai seorang pria Arab berkerudung dan berjubah serba putih, lengkap dengan bersenjatakan tinju tangan kosong, pedang panjang, pedang pendek, pisau tersembunyi di lengan dan pisau-pisau kecil untuk dilemparkan ke arah musuh.

Pada level prolog, Altair gagal dalam tugas pertamanya sebagai pembunuh bayaran dan teman kerjanya tewas dan terluka berat, serta markas besar organisasinya yang terletak di pinggiran kota Masyaf yang ramai diserbu oleh musuh. Ia lalu diadili oleh Mualim, bos organisasinya, dieksekusi mati di depan teman-temannya. Tapi entah bagaimana ceritanya, pada level berikutnya Altair "dihidupkan" kembali oleh Mualim, semua senjata dan keahliannya dalam berakrobatik hilang semuanya.

Demi memulihkan nama baiknya dan menerima kembali senjata-senjata miliknya beserta keahlian akrobatiknya, ia diserahi tugas baru dari organisasi. Altair mulai dari awal karir lagi sebagai seorang pembunuh. Tugas barunya awalnya mudah lalu beranjak sedikit demi sedikit semakin sulit. Hadiah dari setiap keberhasilan tugas barunya Altair, keahliannya berakrobat, senjata-senjata miliknya akan kembali satu demi satu juga.

Mualim memerintahkan Altair untuk membunuh sembilan Pejabat elit Pasukan Templar, karena mereka dituduh akan merusak stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat selama Perang Salib berlangsung. Pekerjaan Altair dalam mendekati target-target utamanya tak bisa langsung begitu saja. Ia harus menyelidiki sendiri kapan dan dimana sang target utama itu berada di ruang dan waktu yang pas untuk dibunuh.

Penyelidikan ala Altair harus dilakukan sembunyi-sembunyi tanpa terdeteksi sama sekali, aksinya itu berupa;
- Menguping pembicaraan orang-orang yang berada di lingkaran dalam sang target utama. Altair harus duduk di sebuah bangku terdekat untuk bisa mndengarkan pembicaraan tersebut.
- Menginterogasi orang yang kenal dekat dengan sang target utama, Altair harus mengikutinya sepanjang jalan, begitu berada di tempat yang sepi dari polisi {tentara yang mondar mandir di kota}. Ia akan terus memukuli sang korban hingga mengaku.
- Mencopet dokumen rahasia yang dibawa oleh orang yang berhubungan dekat dengan sang target utama. Altair harus diam-diam mndekatinya lalu mencopetnya dalam waktu singkat.

Mencari tambahan info bisa juga dilakukan oleh Altair dengan menyelesaikan side-side quest yang diberikan agen-agen koleganya yang berada di kota. Para agen lapangan itu hanya ada di tempat-tempat tertentu saja. Menamatkan atau tidak side-side quest tersebut tak berpengaruh besar pada quest utamanya Altair, membunuh sang target utama.


Kota-kota yang ada di Assasin Creed berupa Masyaf, Outside Masyaf, Jerusalem, Damaskus dan Acre. Semua kota-kota yang ada itu termasuk luas bagaikan ukuran kota yang sebenarnya, dimasa lalu. Tugas barunya Altair, membunuh 2 orang pejabat Templar yang kejam, yang satu berada di Damaskus dan yang satunya lagi berada di Jerusalem. Altair berangkat dari Masyaf, sebuah kota kecil yang ramai oleh penduduknya yang berlalu lalang dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Alat transportasinya berupa kuda, yang bisa dipakai hanya di luar kota saja, jika mau masuk kota kudanya ditinggal di luar kota.

Altair bebas memilih mau pergi kemana saja, apakah ke Damaskus dulu atau Jerusalem dulu. Setiap masuk ke wilayah baru, Altair wajib hukumnya untuk memanjat ke puncak tertinggi suatu bangunan khusus, yang terlihat dalam Minimap berupa lambang elang. Gamer bisa juga melihat secara manual, di puncak bangunan tinggi akan ada seekor elang yang sedang memutarinya. Gunanya gamer naik keatas puncak adalah demi melihat keseluruhan wilayah yang akan dieksplorasinya. Selain itu akan memunculkan quest-quest baru yang akan membantu penyelidikannya Altair. Di setiap wilayah kota, pasti akan muncul side quest unik, mengumpulkan semua koleksi bendera dari lambang tertentu yang tersebar di penjuru kota. Bonusnya jika sukses meng-koleksi semua bendera yang jumlahnya buanyak itu???? TAKADA!!!! Fungsinya hanya untuk checkpoint aja.

Kota Damaskus, Jerusalem, dan Acre, selalu ada satu Kantor Cabang beserta seorang Supervisor dari organisasinya Altair juga. Ketiga kota tersebut sangat luas, dan akan terbagai dalam 3-4 sub-wilayah, dimana wilayah-wilayah baru itu akan terbuka seiring perkembangan cerita. Altair bebas menjelajahi setiap sudut kota, apakah itu sambil berjalan-jalan, berlari atau berlompatan diatas atap bangunan-bangunan yang ada. Namun ia harus waspada agar gerak geriknya itu tak mengundang polisi atau tentara setenpat, ada meteran wanted di system HUD Assasin Creed. Ia juga dilarang membunuh warga sipil tak berdosa, jika dipaksa membunuh, meteran health-nya akan berkurang dan akan kembali penuh dalam sekian menit kemudian jika ia berdiam diri. Yup, menyerupai system health ala game COD 4 n GOW.

Kota-kota itu dipenuhi oleh penduduk yang sibuk beraktivitas macam-macam, ada polisi-polisi yang terus mondar mandir sebagai petugas Kamtibmas, ada pula polisi yang diam lagi berjaga di tempat-tempat tertentu. Di kota, ada preman lalu lalang, jika dihabisi gamer akan mendapatkan tambahan senjata pisau-pisau kecil. Di ketiga kota tersebut pasti memiliki quest menyelamatkan orang miskin dari gangguan polisi. Altair harus mengalahkan semua polisi pengganggu tersebut dengan berbagai cara. Bonusnya jika berhasil, berupa Altair bisa menyamar menjadi seorang pelajar untuk mengelabui tentara atau polisi. Bonus satunya lagi, jika ia dikejar-kejar oleh polisi, akan ada sekelompok lelaki yang akan menghalangi para polisi tersebut. Meteran wanted level itu akan hilang jika Altair membunuh para polisi tersebut atau ia bersembunyi di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Pihak Ubisoft, umumnya termasuk developer yang perhatian dalam mengolah kontrol yang baik, dari sebuah game konsol ke game PC. Assasin Creed dengan pandangan pihak ketiga ini, menerapkan transformasi kontrol pergerakan Altair untuk PC dengan baik, termasuk kemampuannya memanjat dinding, tangga, berlompatan diatas bangunan-bangunan rumah yang ada, berlari cepat, mengendarai kuda.

Adanya jurus-jurus kombo dalam pertarungan senjata tajam yang agak menyulitkan gamer PC. Mengapa Ubisoft tidak membuat sebuah tombol untuk jalan pintas dalam menggunakan kombo-kombo yang ada??? agar lebih memudahkan gamer PC dalam bertarung jarak dekat dengan musuh. Kontrolnya dalam bertarung agak tak ramah terhadap kibord PC.

Sehebat apapun Altair dalam membunuh para petinggi pasukan Templar itu dengan berbagai cara, baik itu dengan cara stealth atau secara terang-terangan, ternyata ia masih memiliki rasa moralitas yang tinggi. Terbukti, setiap kali sehabis membunuh sang target utama, ia akan mengobrol-obrol dengan korbannya itu. Mengapa mereka melakukan hal-hal kejam itu??? Alasan-alasan omong kosong dari sang korban..... terus membayangi pemikiran Altair. Yup, di tengah-tengah situasi super genting, Altair mengobrol dengan korban-korbannya. Parahnya, oleh developer game ini, setiap percakapan yang ada tak dikasih teks subtitle apalagi adegan obrolan tersebut, dimanapun, kapanpun dan siapapun.... Tak bisa dilewatkan alias gamer harus mendengarkan percakapan monoton sepanjang waktu sampe selesai. Padahal game-game lainnya, terutama genre RPG, setiap adegan dialog bisa di-skip.

Altair itu seorang pembunuh yang amatiran, ia tak bisa berenang ketika dalam sebuah misi khusus yang setting pembunuhannya ada di sebuah dermaga, ia salah meloncat dan jatuh ke air, tenggelam dan mati. Ditambah save gamenya secara autosave atau checkpoint saja, tak ada save manual, gamer harus bersabar mengulangi dari awal save itu. Ciri Khas Altair yang slalu berkerudung dan berjubah putih sangat kontras dengan tugas utamanya yang berkaitan dengan Kematian seseorang. Pembunuhan itu kan pasti mengeluarkan darah, apalagi jika dilakukan secara terang-terangan, darah yang memuncrat pasti tambah banyak. Anehnya, bajunya yang putih itu selalu putih bersih, hanya pedangnya yang terkena noda darah. Seolah-olah, Altarir selalu membawa bubuk deterjen untuk selalu mencuci bajunya agar bersih selalu. Benar-benar 'its so UNCool'...........

Grafis
Detail arsitektur di kota-kota dalam Assasin Creed, benar-benar mengagumkan..... termasuk bangunan ternama dan sangat bersejarah di dunia, the Dome of Rock. Sayang tak bisa dimasuki. Hampir setiap bangunan bisa dipanjat oleh Altair, asalkan bangunan itu rendah, ada pijakan naik keatas atau ada tangga di dindingnya. Aktifitas para penduduk kota yang terasa real, sesuai di era Perang Salib abad ke-12. Keindahan bentuk kota, baik di dalam kota maupun diluar kotanya tersebut. Detailnya tajam, namun karakternya kurang keliatan tajam. Keindahana kota-kota ini sayangnya hanya terlihat di siang hari, gak ada namanya fitur saing-malam, oleh karena itulah, Si Altair selalu beraksi di siang hari.

Sound
Musiknya lumayan mengena di telinga. Suara dalam setiap adegan dialognya lumayan terdengar agak tak jelas, karakteristik suara dari tiap karakter juga tak jelas. Namun, detail kejernihan orang-orang yang mengobrol di jalanan umum di kota-kota, ataupun teriakan para polisi atau tentara trdengar jelas. Adegan pertarungannya lumayan sangat berisik.

Kesimpulan
Penulis lebih menyukai jika cerita konspirasinya itu hanya berpusat di abad ke-12 saja, atau di tahun 2012, bukannya malah mencampurkan jadi satu semacam gado-gado rasa baru dari teori konspirasi ala novelis Dan Brown dengan teori-teori yang lainnya.
Ketidaklogisan cerita semakin parah ketika gamer akan tahu yang sebenarnya.... apakah 'benda keramat' itu???

Ide dasar pembuatan game ini emang bagus, setting ruang dan waktu ala Trilogi POP digabungkan dengan Kwartet serial Sam Fisher beserta tema sang jagoan pembunuh ala seri the Hitman. Begitu diaplikasikan ke real game, hasilnya jadi campur sari, ada manis, asin, asem, pahit.... gak jelas.


This Is my blog

Selasa, 21 Februari 2012 1 komentar

Hello guys salam kenal gw Raihan Ramadhan , Selamat Datang di blog saya , blog ini akan memberikan post tentang hal berbau Assassin's dan Game game yang keren Abis

 
Assassin's Hideout © 2011 | Designed by Bingo Cash, in collaboration with Modern Warfare 3, VPS Hosting and Compare Web Hosting